Sebelum Belajar Siapkan "Hal" ini

Saya akan lebih sering menjelaskan hal-hal mengenai "cara" dibandingkan hanya menyodorkan materi. Di dalam belajar, sebenarnya ada banyak kendala yang justru bukan berasal dari tingkat kesusahan materi, atau jumlah materi yang banyak. Akan tetapi terkadang ada satu faktor yang datang dari dalam diri kita sendiri yang membuat hasil dari belajar kita tidak maksimal. Misalnya malas, banyak alasan, stres, dan pikiran yang belum terbuka mengenai proses belajar dan lain sebagainya. Banyak diantara kita hanya ingin cepat menguasai suatu materi tapi tidak mau berusaha keras, alias hanya ingin yang instan saja.

Otak yang bekerja lebih keras, akan membuat memori yang kita dapat (kosakata yang kita hafal), akan lebih lama tersimpan dibandingkan dengan cara-cara yang cepat. Jadi sebenarnya cara cepat dalam belajar itu, bagi saya sama sekali tidak ada. Akan tetapi kita bisa mencari cara yang mudah dan menyenangkan supaya otak lebih mudah menyerap materi dan bisa menata memori tersebut dengan baik di dalam otak. Sehingga saat ingin mengeluarkannya (menyampaikannya saat berbicara), otak akan lebih cepat menemukannya.

Berikut ini beberapa hal yang harus kita persiapkan sebelum belajar. Ini hanya beberapa pendapat saya. Mungkin saja anda tidak sependapat dengan hal berikut ini. Maka dari itu harap dimaklumi.

1. BUKA PIKIRAN

Step ini paling penting menurut saya. Hal ini pernah saya alami . Saat itu, saya masih belum bisa membuka pikiran dan hati saya untuk mengenal Jepang. Dulu saya belajar bahasa jepang, hanya sekedar belajar bahasanya saja. Saya tidak suka selain bahasa jepang , seperti budaya, film, dan semua yang berhubungan dengan jepang ,sama sekali tidak ada yang menarik menurut saya. Alhasil apa yang saya pelajari akhirnya hanya mentok pada satu titik saja. Saya sadar,saat itu bahasa jepang saya tidak berkembang dan saya tidak bisa apa-apa lagi. Bahkan sempat suatu ketika, saya hampir putus asa sehingg saya ingin memutuskan untuk berhenti belajar. Namun berkat seseorang yang telah membuka hati dan pikiran saya, akhirnya saya masih melanjutkan semua ini dan alhamdulilah bisa lulus ujian N2 di Jepang.


Jadi dalam belajar bahasa Jepang atau mungkin dalam belajar di bidang lain sekalipun, kita juga harus bisa menyeimbangkan antara bidang yang kita pelajari dengan bidang lain yang mungkin masih berkaitan dengan bidang tersebut. Karena bagaimanapun bahasa bisa dikatakan bagian dari budaya. Jika kita tidak menyukai budaya jepang, bagaimana mungkin bahasa jepang kita bisa meningkat?

Selain itu, membuka pikiran bukan hanya untuk hal atau bidang yang kita pelajari saja. Membuka pikiran bisa juga saya artikan dengan mengubah "cara berpikir". Bisa diibaratkan belajar itu seperti proses memasak. Untuk mendapatkan cita rasa makanan yang baik, kita juga harus bisa memilih alat, bahan, bumbu, dan metode yang benar dalam memasak. PIKIRAN disini saya ibaratkan seperti panci atau penggorengan untuk memasak. Jika sebuah panci yang kita gunakan tersebut tidak baik, misalnya terlalu kecil, atau terlalu besar atau bahkan pancinya berlubang, apa jadinya? Yang pasti proses memasak tidak akan berjalan dengan baik dan hasilnya tentu tidak baik, bukan?. 

Kalau pikiran kita masih sempit, maka ilmu yang masuk juga akan sedikit dan tidak maksimal. Wajar ketika kita sebagai manusia merasa kita itu lebih pintar dari orang lain, ingin dipuji oleh orang lain, dan ingin dikatakan hebat. Sifat-sifat tersebutlah yang secara tidak langsung akan membuat pikiran kita sempit. Kenapa bisa demikian? Misalkan saja, ada satu informasi baru atau materi baru. Lantas karena kita merasa sudah mampu lalu tidak membaca lagi atau bahkan hanya bisa mengkritik saja. Atau bahkan supaya kita dibilang hebat kita mengetes orang yang memberikan kita infomasi tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin terjawab oleh orang tersebut,  lantas apakah dengan hal tersebut kita akan menjadi lebih pandai dari sebelumnya? Oh tentu TIDAK.

Kenapa saya mengatakan hal ini? ya, karena saya dulu juga melakukan hal yang sama. Bahkan kepada dosen saya sendiri. Saya tipe murid yang kritis. Saya bisa belajar 3 sampai 5 bab lebih cepat dari murid yang lain. Jika ada hal yang saya tidak mengerti saya akan menanyakan kepada dosen tersebut. Jika dosen yang satu tidak bisa menjawab saya akan menanyakannya kepada dosen yang lain. Terkadang dosen tidak bisa menjelaskan dengan baik apa yang saya tanyakan. Dan saat itulah saya berfikir bahwa ternyata seorang dosen pun tidak bisa menjelaskan. Ada sedikit perasaan merendahkan kemampuan dosen tersebut. Namun saat ini saya mulai sadar bahwa cara-cara seperti itu adalah SALAH. Saya mulai mengerti bagaimana seharusnya menjadi pembelajar yang baik. Kita harus mempunyai pikiran yang terbuka dan harus tetap rendah hati dalam proses belajar. Pintar atau tidaknya seseorang bukan dari seberapa banyak yang bisa dipamerkan kepada orang lain namun manfaat atau tidaknya ilmu tersebut bagi orang lain.

Jika anda sudah mengerti mengenai hal ini, satu step anda sudah membuka hati dan pikiran anda, maka proses belajar anda insyaallah akan berjalan dengan baik.

2. BUKU MATERI

Jika belajar kita ibaratkan sebuah proses memasak, maka buku adalah bahan-bahannya. Untuk mendapatkan masakan yang lezat, tentunya harus memilih bahan-bahan yang bagus dan berkualitas. Sama halnya dengan buku. Sebenarnya semua buku itu baik. Namun memang ada karakteristik atau kelebihan dan kekurangan dari masing-masing buku tersebut. Karena setiap penulis mempunyai cara yang berbeda dalam penyajian materi dan isi materi. Memilih buku yang sesuai dengan kemampuan kita juga perlu. Hanya saja terlalu pilih-pilih sehingga tidak jadi membelinya, itu sama saja tidak mau belajar. 

Selain itu, ada hal lain yang harus kita ketahui, yakni semua proses itu butuh biaya. Butuh pengorbanan. Jadi ketika kita harus mengeluarkan uang untuk membeli buku, kita harus ikhlas. Bagaimanapun ketika kita membeli buku tidaklah rugi. Buku ibarat sebuah investasi masa depan yang tidak akan habis. 

3. KAMUS

Mungkin masih bisa dikategorikan sebagai buku. Namun saya ibaratkan kamus itu seperti senjata. Kalau dalam proses memasak, katakanlah kamus itu sebagai spatula nya. Saya salah satu yang bisa memanfaatkan kamus sehingga kemampuan bahasa Jepang saya meningkat. Terutama saat saya sering menggunakan kamu Kanji Nelson. Karena saya sering menggunakan kamus kanji ini, kemampuan kanji saya semakin baik. 

Semakin kita sering membuka kamus, kemampuan otak kita untuk mengingat akan semakin tinggi. Saya sangat tidak menyarankan menggunakan google translate atau kamus pada smartphone. Karena suatu usaha yang tingkat kemudahannya tinggi justru akan mengurangi daya ingat otak. Kenapa bisa demikian? Bukti yang nyata saat ini terjadi adalah pada orang jepang. Semakin canggih teknologi yang mereka miliki, ternyata jutru membuat orang jepang semakin banyak yang tidak bisa menulis kanji dengan baik. Ya, semua itu diakibatkan sebuah kemudahan dalam teknologi. Jadi ketika kita masih dalam proses belajar , gunakanlah kamus manual.

4. WAKTU

Tidak bisa dipungkiri bahwa belajar banyak menyita waktu kita. Sama juga seperti facebook-an, chatting-an, atau tweeter-an. Tapi alangkah baiknya jika waktu kita , bisa kita manfaatkan untuk belajar hal yang baik. Seperti yang saya sampaikan pada nomor satu, jika belajar itu tidak kita jadikan beban dan kita ikhlas melakukannya, maka kita juga akan dengan senang hati meluangkan waktu untuk belajar.

Kalau saya , karena memang dari dulu termasuk yang suka belajar, maka terkadang justru dengan belajar , bisa membuat pikiran saya lebih rileks. Ada satu kepuasan batin yang saya rasakan saat saya belajar. Bahkan kadang sampai lupa waktu. Tapi tentunya ketika kita sudah bisa menikmati betapa menyenangkannya belajar, jangan sampai melupakan kesehatan dan tetap istirahat dengan cukup.

5. LINGKUNGAN YANG BAIK

Tak bisa dipungkiri, bahwa lingkungan sekitar juga sangat mempengaruhi kita dalam belajar. Terakhir saya mengikuti ujian JLPT saya bisa belajar dengan baik karena teman-teman saya juga sangat bersemangat belajar. Beda halnya saat bulan 7, saya tidak semangat karena hanya saya sendiri yang mendaftar dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak menghadiri ujian tersebut.

Jika lingkungan anda tidak mendukung, satu-satunya cara adalah anda harus bisa menciptakan lingkungan anda sendiri, supaya tidak terpengaruh dengan sekitar anda. Sekali lagi hal ini jika dilandasi semangat dan ikhlas dalam belajar, maka lingkungan tidak akan berpengaruh banyak bagi anda.

Sekian, selamat belajar.

Pengalaman selama di Jepang, mengajari saya tentang banyak hal. Terutama dalam belajar bahasa jepang. Semoga artikel dalam website ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Ikoma, 2 Febuari 2016

Bagikan

Artikel Terkait

NEXT
« PREV
PREV
NEXT »

6 comments

comments
February 4, 2016 at 9:55 PM delete

Sumimasen sensei... Sy mau tanya, untuk buku vocab, kamus nelson sama buku N1-5 (yang ada di Referensi Buku) apakah ada soft file ny? atau hanya berupa buku saja.
Maaf belinya dimana ya sensei? Di Indonesia adakah?

Reply
avatar
February 4, 2016 at 11:21 PM delete

Gomen kalau soft copi full ga kita sediakan. melanggar hak cipta.sementara hanya ada di Japan. kalau di Indo bisa pakai bukuya gakushudo

Reply
avatar

Silahkan jika ada yang ditanyakan atau masukan, tuliskan di kolom komentar.
Terima kasih.

Popular Posts